Ceritaku di Januari

Suatu malam organisasiku mengadakan rapat virtual, rasanya rapat virtual untuk kondisi seperti saat ini adalah hal lumrah, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan kita untuk rapat secara langsung.  Rapat kali ini, beragendakan penunjukan PJ (penanggung jawab) dalam salah satu projek. Entah dengan alasan apa mereka menyetujui bahwa aku PJ dari projek tersebut.

Dalam benakku terbesit jadi PJ tak semudah apa yang mereka katakan sebelumnya padaku, aku harus mengurus beberapa hal. Kadang dalam rapat sudah fix, masih aja ada tambahan agenda yang mau tak mau aku harus menerima, karena sudah berkaitan dengan lembaga.

Rasanya dalam beberapa hal untuk projek tersebut sudah matang. Namun, apa mau dikata, ketika Allah sudah mempunyai skenario lain. Ada saja hal-hal diluar dugaan yang bikin kepalaku mau pecah. 

Dalam salah satu agenda dari projek tersebut tiba-tiba salah satu panitia menghubungiku, dia yang harusnya ngehandle acara itu malah tidak bisa hadir karena orang tuanya masuk rumah sakit, "mencari partner dia aja susah, apalagi cari gantinya" batinku. Lagi lagi aku terjebak dalam situasi dimana ibarat kata 'sudah jatuh tertimpa tangga pula'. Dan mau gak mau aku harus menghandle acara itu secara keseluruhan.

Kasus yang sama untuk agenda lainnya, tiba-tiba dia yang harusnya jadi moderator malah belum bisa balik ke Madura dan cadangannyapun tidak bisa berangkat karena proses perizinan. Bukan kami tak mau mengizinkan dia ke orang tuanya, cuma kami lupa saking sibuknya kami dengan beberapa hal yang harus kami urus. 

Lagi-lagi aku harus melakukan hal yang rasanya aku belum cakap untuk melakukannya, tapi mau gimana lagi, rasanya sudah tidak ada lagi yang bisa aku andalkan di acara ini. Kalau ditanya perihal apa yang aku rasakan selama projek itu berlangsung, rasanya capek, kesal, bahagia, benci semua jadi satu. Cuma kembali lagi pada niat awal, aku berpartisipasi dalam projek ini tujuannya adalah untuk ngabdi. Berusaha ikhlas, sabar dan bersyukur atas apa yang terjadi.

Singkat cerita projek belum done, badanku sudah down. Aku jatuh sakit saat projek tersebut belum selesai secara sempurna. Entah karena aku kecapean atau aku yang terlalu banyak pikiran. 

20/365

Komentar